Fiqh Prioritas

“Kalau kaum muslimin mau memahami, memiliki keimanan yang benar dan mengetahui makna fiqh prioritas, maka dia akan  merasakan kebahagiaaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat…” (Bisyr Al-Hafi)

Sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian bagi umat muslim saat ini adalah timbangannya terhadap prioritas dalam melakukan segala hal. Banyak umat muslim baik yang awam, yang menyimpang dari jalan yang lurus bahkan oleh orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada agama ini telah melakukan pemyimpangan terhadap masalah prioritas ini dikarenakan tidak adanya pengetahuan yang benar. Yusuf Al-qardhawy mengatakan bahwasanya beliau pernah menyaksikan orang muslim yang baik hati yang mau menyumbang dana besar untuk pembangunan masjid yang sudah banyak masjidnya. Akan tetapi, ketika mereka diminta memberi sumbangan untuk mengembangkan dakwah islam, memberantas kekufuran, mendukung kegiatan untuk menegakkan syariah, mereka terkadang menolak meskipun memberi tetapi tidak sebesar memberi sumbangan terhadap masjid. Ada juga orang-orang muslim yang kaya raya senantiasa melaksanakan umrah dan haji yang telah berkali-kali mereka lakukan. Namun ketika mereka diminta untuk membantu orang-orang miskin disekitarnya, membantu memerangi orang-orang Yahudi di Palestina, membantu mencetak, menterjemahkan dan menerbitkan buku-buku islam yang sangat bermanfaat, mereka justru memalingkan muka. Memang hal-hal yang dilakukan  itu adalah sesuatu yang baik namun tidak berdasar kepada pertimbangan prioritas yang baik.

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.(QS. At-taubah (9) : 19)

Salah satu urgensi lain dari memahami fiqh prioritas adalah untuk memberi kejelasan bagi kita dalam menentukan perkara-perkara yang perlu untuk didahulukan terutama dalam menentukan jadwal sehari-hari. Agar dalam setiap hari-hari kita, terisi dengan kegiatan yang seimbang dalam rangka memenuhi kebutuhan fikriyah, ruhiyah dan jasmaniah kita. Tidak condong kesalahsatunya, tapi cenderung untuk seimbang diantara ketiga hal tersebut atau dapat direpresntasikan kepada keseimbangan antara ilmu, iman dan amal. Keseimbangan diantara tiga hal ini tentu akan membawa kepada kemudahan dan ketentraman sedangkan ketidakseimbangan akan mengarahkan kepada kehancuran. Agar dalam setiap kegiatan yang kita lakukan juga tidak hanya didasarkan atas prinsip kesukaan saja tapi didasarkan kepada timbangan prioritas yang menyangkut aspek hukum, nilai, pelaksanaan serta kemaslahatan.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengetahui dulu yang dimaksud dengan fiqh prioritas itu sendiri. Karena terkadang kita hanya menisbatkan pengertian prioritas itu kepada perkara yang paling penting dan terdarurat saja tanpa menimbang kepada aspek lain sehingga ini terkadang membuat kita salah dalam membuat skala prioritas. Yang dimaksud dengan fiqh prioritas atau fiqh al-awlawiyyat sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf Al-qardhawy adalah meletakkan segala sesuatu sesuai dengan peringkatnya dengan adil dari segi hukum, nilai dan pelaksanaanya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu dan diterangi oleh akal. Jadi, prioritas itu tidak asal konsep dasarnya dan tidak didasarkan atas tingkat kepentingan atau mendahulukan tetapi kepada memandang sesuatu sesuai kadarnya. Fiqh prioritas membuat kita memperlakukan yang sunnah itu sebagai sunnah, melihat yang wajib itu sebagai sesuatu yang wajib sehingga dapat terhindar dari perkara yang berlebihan atau memudahkan.

Fiqh prioritas juga terkait dalam kita mempertimbangkan suatu perkara sehingga seharusnya penguasaan terhadap fiqh ini juga dimiliki oleh mereka yang ingin atau telah menjadi seorang pemimpin dimanapun dia memimpin. Hal ini terkait kepada pertimbangan atas kemaslahatan dan kemudharatan yang ditimbulkan oelh suatu perkara. Sebelum kita memutuskan sesuatu, hendaknya kita mempertimbangkan mudharat dan maslahatnya dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah ada. Berikut ini saya kutipkan beberapa kaidah-kaidah dalam memberikan pertimbangan yang dibagi dalam tiga kemungkinan pertemuan antara mudharat dan maslahat.

Pertimbangan antara maslahat yang satu dengan yang lainnya

“Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang masih diragukan”

“Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang masih diragukan”

“Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang sementara dan insidental”

Pertimbangan antara mudharat yang satu dengan yang lainnya

“Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan”

“Bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang lebih besar”

“Bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang sifatnya lebih luas dan umum”

Pertimbangan antara maslahat dan mudharat ketika keduanya bertemu

“Menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaat”

“Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar”

“Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan karena ada kerusakan yang baru diduga adanya”

Selain itu, dalam buku fiqh prioritas karya Dr. Yusuf Al-qardhawy juga dijelaskan tentang prinsip-prinsip prioritas dalam berbagai hal. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan sedikit penjelasan tentang prinsip prioritas dalam tiga perkara saja. Yang ingin lebih jelas dan lebih lengkap silakan merujuk ke bukunya langsung ya. :)

1.      Prioritas Ilmu atas Amal

Ilmu itu adalah pemimpin, dan amal adalah pengikutnya. Ilmu harus didahulukan atas amal karna ilmu pengetahuanlah yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, yang benar dan yang salah, yang sunnah dan yang bid’ah. Masih ingatkah kita tentang kisah pemberian fatwa tentang keharusan berwudhu saat sedang terluka yang berujung kepada kematian orang yang meminta fatwa tersebut ? Sesungguhnya benarlah apa yang dikatakan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”

Selain itu, salah satu yang terkait dalam prioritas ilmu atas amal adalah prioritas pemahaman atas hafalan. Ilmu yang hakiki ialah ilmu yang betul-betul kita fahami dan cerna kedalam otak kita bukan yang didasarkan atas hafalan semata. Digambarkan dalam sebuah hadist bahwasanya orang yang hanya dapat menyimpan tetapi tidak memiliki pemahaman yang baik dan mendalam tentang hal itu adalah seperti tanah cadas yang mampu menampung air sehingga datang orang yang meminum airnya. Mereka hanya dapat membuat kesimpulan hukum yang dapat dimanfaatkan orang lain. Tetapi tentu yang lebih baik adalah mereka yang memahami, memanfaatkan dan mengajarkan yang digambarkan sebagai tanah yang subur, yang airnya dapat diminum dan menumbuhkan berbagai macam tanaman diatasnya.

2.      Prioritas dalam Berbagai Bidang Amal

Dalam setiap perkara amal, ada prioritasnya. Seperti yang telah disinggung diatas tentang ibadah umroh yang berkali-kali dan membantu orang-orang miskin sekitar. Ada prioritas tehadap suatu amal yang lama manfaatnya. Sebagaimana yang Rasulullah g sabdakan, “Shadaqah yang paling utama ialah memberikan tenda, atau memberikan seorang pembantu, atau seekor unta untuk perjuangan di jalan Allah” (HR. Ahmad & Tirmidzi). Ada prioritas terhadap amal yang kontinu terhadap amal yang putus-putus. Jadi ketika ditanya, mana yang lebih baik menyumbangkan uang seribu rupiah setiap hari atau menyumbangkan sebesar tigapuluh ribu disatu hari untuk satu bulan ? maka tentu yang lebih baik adalah yang kontinu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah g , “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (Muttafaq Alaih)

Amal yang paling utama adalah amal yang dinisbatkan untuk memperoleh keridhaan Allah setiap waktu dengan melihat kepentingan terdesak saat itu. Maka, ibadah yang paling utama pada waktu perjuangan adalah berjuang. Ketika kedatangan seorang tamu, maka yang paling utama adalah menyambutnya dan mnghormatinya walau kita harus meninggalkan wirid yang sunat. Amalan yang paling utama ketika teman kita sakit ialah menjenguknya daripada menghadiri perkumpulan kita. Amalan yang paling utama setiap waktu adalah mengutamakan pencapaian keridhaan Allah b pada setiap waktu dan keadaan, memusatkan perhatian terhadap kewajiban dan tugas kita setiap waktu. Maka sungguh, kita akan senantiasa melihat orang-orang yang mengamalkan ini dalam setiap kondisi, dalam setiap majelis ilmu, dalam barisan pejuang, dalam kumpulan orang yang berdzikir, dalam kumpulan orang yang senantiasa bershadaqah dan berbuat kebajikan, ditengah-tengah  masyarakat, orang ini akan selalu ada dan dirasakan manfaat keberadaanya. Karena beliau adalah hamba yang mutlak, yang amal perbuatannya tidak ditujukan untuk dirinya tetapi untuk Allah b. Dia bagaikan air hujan, dimanapun diturunkan selalu memberi manfaat.

3.      Prioritas dalam Perkara yang Diperintahkan

Dalam segala perkara yang diperintahkan juga ada prioritas yang harus kita perhatikan. Yang paling utama adalah prioritas perkara pokok atas perkara cabang. Ini membuat kita harus selalu mendahulukan perkara pokok yang terkait aqidah, rukun iman, rukun islam daripada perkara-perkara cabang yang kebanyakan masih diperselisihkan. Padahal kita tahu bahwasanya amal tanpa landasan yang benar tidak akan ada nilainya disisi Allah b, lantas kenapa kita terfokus kepada hal-hal yang cabang (furu’) ? Bukan kepada perkara meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas kemusyrikan dan mengokohkan benih-benih keimanan didalam hati sehingga bisa dinikmati dengan izin Allah.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam perkara ini adalah prioritas fardhu atas wajib dan wajib atas sunnah. Karena kita terkadang sering memandang suatu yang sunnah sebagai kewajiban sehingga kita akan mungkin untuk jatuh dalam berlebih-lebihan. Padahal ada prioritas dalam segala sesuatunya, ada prioritas terhadap fardhu atas sunnah, fardhu kifayah atas fardhu ain bahkan pada yang hukumnya sama-sama fardhu ain.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. , ia berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada nabi SAW sambil berkata,”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan yang apabila aku melakukannya, aku akan masuk syurga.” Rasulullah SAW menjawab, “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dirikan shalat fardhu, bayarlah zakat fardhu, dan berpuasalah pada bulan Ramadhan.”Kemudian lelaki itu berkata,”Demi yang diriku berada ditangan-Nya, aku tidak akan menambah atau menguranginya.” Ketika orang itu kembali lagi ketempat asalnya, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang ingin melihat ahli syurga, maka hendaklah ia melihat orang ini.” (Muttafaq Alaih)

Hadist ini setidaknya menunjukkan bahwa perkara fardhu adalah dasar amalan agama. Barangsiapa mengerjakannya dengan sempurna, tidak menguranginya sedikitpun, berarti dia telah membuka pintu syurga, walaupun dia tidak mengerjakan amalan-amalan sunnah diluar fardhu itu. Maka seharusnya kita juga tidak terlalu menyibukkan diri dalam perkara sunnah tapi malah melupakan yang wajib seperti tetap shalat rawatib padahal sudah tertinggal shalat fardhu berjamaah, memperlama qiyamul lail tetapi besoknya tidak bisa ihsan dalam pekerjaan, atau hal lainnya. Karena barangsiapa yang disibukkan dengan perkara fardhu sehingga dia tidak mencari tambahan, maka dia dimaafkan. Dan barangsiapa yang disibukkan untuk mencari tambahan dengan mengabaikan oerkara yang fardhu maka dia tertipu.

 Setidaknya itulah hal-hal yang bisa saya ringkas dari sebuah buku yang insyaallah sangat bermanfaat dan recomended untuk kita baca, yaitu buku Fiqh Prioritas karay Dr. Yusuf Al-Qardhawy. Sebenarnya ada banyak hal lainnya yang ingin saya tuliskan dan begitu penting untuk kita ketahui  dan pahami, namun karena keterbatasan halaman (baca : kalau kepanjangan biasanya jarang  dibaca.hehe) dan lain-lain maka saya cukupkan tulisan ini sampai disini. Semoga tulisan ini dapat memberi sedikit rasa penasaran kepada kita sehingga berlanjuta untuk membaca keseluruhan isi buku ini. Dan semoga dapat memberikan sedikit gambaran tentang urgensi fiqh prioritas dan memperkaya pengetahuan kita dalam memberi pertimbangan dan memprioritaskan suatu hal. Wallahu ‘Alam

About these ads

Tentang cucuholmes

Just Want to Make You Smile :)
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Resensi. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s