Ukhuwah, Benarkah ?

Hari itu pada tahun 13 H / 634 M, pasukan Romawi (Byzantium), negara super power saat itu, mengangkat senjata untuk melawan pasukan muslimin. Pasukan Romawi memiliki peralatan perang yang lengkap dan tentara yang sangat banyak jumlahnya dibandingkan pasukan kaum muslimin. Pasukan Romawi berjumlah sekitar 240.000 orang sedangkan pasukan kaum muslimin hanya berjumlah sekitar 40.000 orang. Satu hal yang menarik adalah bahwa 80.000 pasukan romawi pada itu diikat dengan rantai setiap 10.000 orang agar mereka tidak lari dari peperangan.

Khalid bin Walid, panglima perang saat itu sekarang memutar otak. Bingung bukan buatan. Tentara Bizantin Romawi berkali-kali lipat banyaknya dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Ditambah, pasukan Islam yang dipimpinnya tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjatakan lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Dan mereka akan berhadapan di dataran Yarmuk. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 45.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 rombongan besar untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh.

Perang berlangsung dan seperti halnya dari sisi kuantitas, pasukan muslim terpukul mundur. Pasukan terlatih dan terikat rantai itu perlahan mulai bangga dan semangat untuk menghancurkan pasukan muslim. Namun, disini ada peran besar para muslimah. Mereka yang pada awalnya diminta untuk menimpuki dan meneriaki kaum muslim yang berlari dari perang mulai menunaikan tugasnya. Alhasil, mereka berhasil membunuh beberapa tentara romawi. Setelah itu, semangat dan iman kaum muslim yang sempat melemah kembali berkibar. Mereka akhirnya memenangkan pertarungan tersebut dengan kekuatan iman yang kembali menguat. Khalid menerjang, pasukan muslim mengikuti hingga berhasil merubuhkan barisan tentara yang disatukan dengan rantai tersebut.

285063_1456467029409_1765350362_667619_3633560_n

Ukhuwah. Kedua pasukan pada perang diatas sama-sama memiliki ukhuwah. Ukhuwah ini yang membuat masing-masing kubu sempat memenangkan pertempuran walau diakhiri dengan kemenangan muslim. Disinilah letak perbedaan. Ukhuwah muslim dibangun dengan akidah tapi ukhuwah romawi dibangun dengan rantai, maka tampaklah dimana perbedaannya. Baik dari sisi kualitas dan keberlanjutan juga beda bukan ? Karena ukhuwah atas dasar akidah jelas begitu luar biasa. Ini yang membuat bangsa arab terangkat dari diremehkan menjadi begitu mulia. Ikatan ini yang membuat sesama muslim tidak ragu untuk saling tegur sapa ataupun saling bercerita karena kita memang bersaudara. Bukan golongan, bukan jama’ah ataupun padepokan apalagi organisasi yang menjadi dasar kekuatan tetapi akidah, kecintaan karena Allah itu yang menguatkan. Karena jika kita memiliki pondasi yang sama, otomatis standar kesukaan atau ketidaksukaan juga tidak akan jauh berbeda. Itulah salah satu keistimewaan seorang muslim, akrab walau baru saling kenal.

Lantas bagaimana dengan kondisi ukhuwah kita ? Apakah ukhuwah atau ukhuwah kita dibentuk atas dasar akidah atau hanya berlandaskan kerja ? seperti romawi atau seperti umat muslim ? karena jika ukhuwah kita dibangun atas dasar akidah maka akan mudah bagi kita untuk saling memahami. Tidak perlu banyak-banyak kejelasan atas sesuatu hal karena semestinya sesimpul senyum akan dapat membuat saudaranya memahami kondisinya. Tidak perlu pilih-pilih karena hal itu akan menyakitkan saudaranya yang lain meskipun lebih akrab dengan yang satu atau dua orang bukanlah masalah. Sebagaimana abu bakar yang dekat dengan umar namun mereka tidak mengabaikan utsman, abu ubaidah, saad dan sahabat-sahabatnya yang lain. Sebagaimana Khalid yang lebih menyenangi abu bakar namun tidak menentang perintah umar. Karena Khalid tahu bahwa Umar memperhatikannya, memahaminya dengan cara yang berbeda.

 Ustad Rahmat Abdullah pernah mengatakan bahwasanya ukhuwah yang paling rendah adalah bagaimana kita tidak memiliki sangkaan yang buruk terhadap saudara kita dan yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya daripada diri sendiri). Maka tak usah muluk-muluk mencapai tingkatan itsar jika khusnudzon saja kita belum bisa. Tak usah bersegera mencapai tingkatan tertinggi jika jalan pikirannya pun tidak bisa kita baca. Karena senyum itu bisa dibuat, itsar pun bisa direkayasa, memahami saudara kita juga bisa berpura-pura tapi hati tahu segalanya. Ukhuwah adalah permasalahan hati sehingga kuat rapuhnya, erat renggangya, rapat tidaknya bergantung kepada hati kita, iman kita apakah kita mengangapnya sebagai saudara. Hingga tak mudah bagi kita menerima berita miring tentangnya. Tak sungkan buat kita untuk mengunjunginya. Tak sulit untuk kita memahaminya. Dalam diam kita dapat saling memahami. Dalam debat kita bisa saling mengerti. Dalam canda kita dapat saling berbagi. Maka, ketika kita mengira itu adalah sebuah ukhuwah, tidak salah jika kita tanyakan kedalam diri kita, benarkah ?

Semoga kisah ukhuwah yang begitu indah ini dapat menjadi akhir rangkaian kata serta deret kalimat tentang ukhuwah diatas. Masih dalam perang yang sama yaitu di medan Yarmuk. Selesainya perang, banyak pejuang islam dan para sahabat yang terkena banyak luka tidak terkecuali Ikrimah bin Abi Jahal, (disekujur tubuhnya tidak kurang ada 70 luka) Al Harits bin Hisyam (paman Ikrimah) dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amru. Saat ketiganya sedang letih, lemah, dan kehausan serta dalam keadaan kritis, datanglah seorang yang mau memberikan air kepada salah seorang diantara mereka. Ketika air akan diberikan kepada Al Harits dan hendak diminumnya, dia melihat Ikrimah, maka dia berkata, “Bawa air ini kepadanya !”. Air beralih ke Ikrimah putra Abu Jahal, ketika dia hendak meneguknya, dilihatnya Ayyasy menatapnya dengan pandangan ingin minum, maka dia berkata, “Berikan ini kepadanya !”. Air beralih lagi kepada Ayyasy, belum sempat air diminum, dia sudah keburu syahid. Maka orang yang membawa air bergegas kembali kepada kedua orang yang membutuhkan air minum, akan tetapi ketika ditemui keduanya juga sudah syahid. Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya.

Saling mengerti, saling memahami, saling mendahulukan. Subhanallah.

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”(QS. Al-Anfaal (8) : 63)

About these ads

Tentang cucuholmes

Just Want to Make You Smile :)
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kontemplasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s